Ibu dalam Sebutan-Sebutan
Ibu dan Jari
Jari manis bertanya lirih pada kelingking,
menggigil dalam renungan, mencari arti yang tersembunyi.
Jari tengah, bijaksana dalam diam, berbisik pelan:
“Aku heran, mengapa tiada sebutan bapak?”
Mereka
tegak seperti prajurit,
berbaris dalam kewaspadaan yang sunyi.
Telapak mengulurkan jemari, mengusap ibu jari,
yang tetap tenang, agung dalam kediaman.
“Tak
mudah menyentuhmu,” ucap mereka serempak,
namun ibu jari hanya mengusap lembut,
menjawab dengan keteduhan tanpa keluh.
“Kami sulit menggapaimu,”
telunjuk menggumam penuh rindu.
Jari
manis membisu, mengisyaratkan kesenyapan,
sementara telunjuk menunjuk,
mengalunkan sebutan ibu—lambang kehangatan.
Bukankah
ibu penuh julukan, lebih dari sekadar nama?
Bukankah ibu disebut tiga kali,
seperti denting piring di dapur,
seperti langkah yang kembali ke ambang pintu,
seperti napas yang tak pernah berhenti di dada.
Ayah,
dalam kesederhanaan,
hanya sekali disebut,
namun tetap bertahan seperti kursi tua di serambi,
menyimpan diam, menahan beban.
Ibu hadir
dalam sebutan sehari-hari:
ibu kota, ibu jari, ibu pertiwi.
Semua mengalir ke satu wajah,
yang meneduhkan, yang menampung,
yang tak pernah selesai disebut.
Aku tak
bertanya lagi.
Di tanah air hatiku kutemukan ibu pertiwi termenung,
wajahnya lembut, penuh cahaya, tak pernah pudar.
Aku
tenggelam dalam kenangan, hangat dalam pelukan,
mengenang setiap jejak yang tak terhapus.
Dan dalam jiwa kecilku terselip rindu yang tak bertepi,
untuk cinta ibu yang abadi.
Ibuku,
kau selalu tersebut dalam hati,
hingga waktuku dijemput sunyi.
Di tengah dunia yang terus berubah, ibu tetap menjadi pusat dari segala sebutan: yang lembut, yang kuat, yang tak tergantikan. Semoga puisi ini menjadi pelukan kecil untuk semua ibu, di mana pun mereka berada.
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar