Cinta Tak Tertukar Rupiah
ATM yang Berbisik
Di depan
mesin sunyi itu, aku terdiam,
Terpikir cinta, bukan sekadar lembaran uang.
Puisi membisik lirih di sela detak,
“Harta dan rupa, pesona yang menggoda,” katanya.
Namun aku tak gentar,
Suara hati lebih nyaring dari gemerincing dunia.
Cintaku
bukan pada kilau rupiah,
Melainkan janji yang dulu kau titipkan.
Meski kutahu hatimu tak lagi searah,
Waktu memisah, janji pun menguap perlahan.
Kasih mula tetap kupeluk erat,
Meski hatimu tak lagi merawat.
Penampilan
berganti, wajah pun berlalu,
Namun kenangan tetap tinggal di kalbu.
Puisi berhenti, tapi maknanya tak padam,
Dalam mimpi, kita bersatu dalam diam.
Pertemuan
itu tak hanya sekali,
Ia datang dalam tidur yang sunyi.
Menggema abadi di ruang batin,
Seperti doa yang tak pernah usai.
Menjadi saksi bisu rindu yang tak henti.
Dan aku, masih mendengar bisik puisi,
Tentang cinta yang tak bisa dibeli
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar