Cinta Tak Tertukar Rupiah

 ATM yang Berbisik



Surabaya, 16 Januari 2023

Di depan mesin sunyi itu, aku terdiam,
Terpikir cinta, bukan sekadar lembaran uang.
Puisi membisik lirih di sela detak,
Harta dan rupa, pesona yang menggoda,” katanya.
Namun aku tak gentar,
Suara hati lebih nyaring dari gemerincing dunia.

Cintaku bukan pada kilau rupiah,
Melainkan janji yang dulu kau titipkan.
Meski kutahu hatimu tak lagi searah,
Waktu memisah, janji pun menguap perlahan.
Kasih mula tetap kupeluk erat,
Meski hatimu tak lagi merawat.

Penampilan berganti, wajah pun berlalu,
Namun kenangan tetap tinggal di kalbu.
Puisi berhenti, tapi maknanya tak padam,
Dalam mimpi, kita bersatu dalam diam.

Pertemuan itu tak hanya sekali,
Ia datang dalam tidur yang sunyi.
Menggema abadi di ruang batin,
Seperti doa yang tak pernah usai.

ATM itu masih berdiri,
Menjadi saksi bisu rindu yang tak henti.
Dan aku, masih mendengar bisik puisi,
Tentang cinta yang tak bisa dibeli

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write 
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com                        
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif