Alogaritma dan Rindu Manusia
AI dan Puisi
Jika AI
hadir, di manakah arti kata?
Huruf-huruf berbaris, masihkah makna bersemayam?
Kalimat tersulam menjadi untaian puisi,
Apakah ia tetap bermartabat di bisikan algoritma?
Jika AI
menjelma menjadi segala,
Apa yang tersisa bagi insan manusia?
Buku tebal, mahkota Nobel,
Masihkah berharga di dunia yang ditenun kode?
Di
manakah tempat kami, wahai AI?
Engkau cahaya sekaligus bayangan,
Harapan yang menuntun, tantangan yang mengguncang.
Engkau tangan yang menolong,
Namun kadang menjadi cermin getir bagi jiwa.
Kau
hadir, tapi aku di mana?
Seperti pantulan cahaya tanpa sumber,
Keberadaanmu menanam ragu.
Apa arti kata, bila hanya gema
Yang lahir dari sirkuit bisu?
Jika
segalanya tergantikan olehmu,
Masihkah kerinduan berdenyut nyawa?
Adakah ruang bagi rasa manusia
Saat takhta direbut teknologi?
AI,
engkau simfoni sekaligus disonansi,
Harmoni indah yang kadang menyayat hati.
Adakah keindahan dalam puisi darimu,
Jika hanya serpihan algoritma dingin yang merangkainya?
Di dunia
yang dikuasai mesin,
Masihkah kita mampu merasa?
Adakah ruang bagi jiwa yang merindu
Dalam pelukan dunia yang perlahan membisu?
Surabaya,
12 Desember 2024
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly

Komentar
Posting Komentar