• Tanah yang Tak Lagi Diam: Bu Siti dan Kompos yang Menulis Ulang Takdir Keputih

  • Penulis: Yusuf Achmad

    Di kampung yang dulu menghasilkan 5 ton sampah per hari, kini tumbuh 1,2 ton pupuk organik setiap bulan. Di tengah aroma fermentasi, tangan Bu Siti mengaduk kompos sambil berkata, “Saya dulu malu kalau anak saya bilang tinggal di Keputih. Sekarang saya bangga. Kampung ini mengajarkan saya arti perubahan.”

    Tanah yang dulu bisu kini bersuara. Di Keputih, harapan tidak datang dari langit. Ia tumbuh dari sisa dapur, dari tangan warga, dari keberanian untuk bermimpi.

    “Kita jarang menyadari betapa berharganya momen-momen kecil sampai semuanya berlalu.”
    — Thornton Wilder, Our Town

    Kompos bukan sekadar pupuk. Ia adalah tinta yang menulis ulang takdir kampung—dengan tangan warga sebagai pena, dan tanah sebagai lembaran harapan.

    “Perubahan besar sering dimulai dari pertanyaan sederhana: Apa yang bisa saya lakukan?”
    — Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century

    Menafsir Ulang Keputih

    Untuk memahami transformasi Keputih, kita perlu mengenali istilah dan sejarah yang membentuk identitas kampung ini:

    • Kampung Berseri Astra (KBA): Program pemberdayaan masyarakat berbasis empat pilar: pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan kewirausahaan. Di Keputih, KBA menjadi katalis perubahan.
    • TPA Keputih: Sejak 1980-an, Keputih dikenal sebagai Tempat Pembuangan Akhir di Surabaya. Stigma ini melekat kuat, menjadikan kampung identik dengan limbah dan keterpinggiran.
    • Rumah Kompos: Fasilitas warga untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk. Di Keputih, Rumah Kompos bukan hanya tempat produksi, tapi ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang rekonsiliasi.
    • Stigma Sosial: Label negatif yang melekat karena sejarah TPA, mempengaruhi cara pandang warga terhadap diri mereka sendiri.

    “Pengelolaan sampah harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan.”
    — UU No. 18 Tahun 2008


    Gerbang Kampung Berseri Astra Keputih, Surabaya
    Gerbang ini menjadi simbol transisi dari keterpinggiran menuju keberdayaan.
    Sumber: Celoteh Kiky – Geliat Kampung Berseri Astra Keputih Surabaya

    Di Balik Tumpukan Sampah

    Keputih bukan hanya soal limbah, tapi tentang luka yang diwariskan. Bau menyengat bukan sekadar aroma, tapi simbol keterpinggiran. Warga terbiasa bertahan, bukan bermimpi. Minimnya akses pendidikan dan keterampilan membuat banyak potensi terpendam. Usaha pengelolaan sampah mandiri sering gagal karena kurang pendampingan dan akses pasar. Identitas kampung terjebak dalam masa lalu yang belum selesai.

    Seorang warga pernah berkata, “Kami tahu kami bisa berubah, tapi kami tidak tahu caranya.” Kalimat ini menggambarkan betapa pentingnya intervensi yang bukan hanya teknis, tapi juga emosional dan sosial.

    Di tengah keterbatasan, muncul satu pertanyaan sederhana: “Apa yang bisa saya lakukan?” Pertanyaan ini menjadi titik balik, bukan hanya bagi Bu Siti, tapi bagi seluruh Keputih.


    Warga Keputih mengolah sampah dapur menjadi pupuk di Rumah Kompos
    Proses pencacahan dan fermentasi dilakukan secara mandiri oleh warga.
    Sumber: detikNews – Warga Surabaya Bisa Dapatkan Kompos Gratis

    Dari Satu Ember Kompos

    Perubahan dimulai dari satu pelatihan, satu warga, satu langkah kecil:

    • Program KBA Astra membuka pelatihan pengolahan sampah.
    • Bu Siti ikut pelatihan, mendirikan Rumah Kompos, dan mulai menggerakkan warga.
    • Kolaborasi dengan anak muda dan siswa SMK dalam pelatihan dan magang.
    • Warga merakit pencacah sederhana, belajar fermentasi, dan memasarkan pupuk secara digital.
    • Astra memberi alat dan ruang, warga mencipta dan bergerak.
    • Kompos menjadi medium belajar lintas generasi—dari ibu rumah tangga ke mentor lingkungan.

    “Awalnya saya ditertawakan. Tapi saya terus belajar. Sekarang, saya bisa ngajarin orang lain.” — Bu Siti
    “Saya dulu nggak ngerti soal sampah. Sekarang saya bisa ngajarin anak saya bikin pupuk.” — Rudi, warga Keputih

     


    Papan informasi PLANET PARK di Kampung Berseri Astra Keputih
    Simbol keteraturan dan ruang belajar terbuka bagi warga dan pengunjung.
    Sumber: Dokumentasi lapangan – Kampung Berseri Astra Keputih, Surabaya

    Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal kepercayaan. Ketika warga diberi ruang untuk belajar dan bereksperimen, mereka menemukan bahwa perubahan bukan hal yang mustahil.

    Pelatihan tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga membangun rasa percaya diri. Bu Siti yang awalnya ragu kini menjadi mentor. Anak-anak muda yang dulu enggan terlibat kini aktif membuat konten edukatif. Rumah Kompos menjadi ruang tumbuh, bukan hanya ruang produksi.

    Jejak Langkah yang Nyata

    Di Keputih, angka bukan sekadar statistik. Ia adalah jejak langkah warga yang memilih bergerak:

    • Produksi pupuk organik mencapai 1,2 ton per bulan.
    • Lebih dari 90 warga dan puluhan anak muda ikut pelatihan.
    • Bu Siti menjadi narasumber dan koordinator lingkungan RW.
    • Keputih berubah dari kampung buangan menjadi kampung pembelajaran.
    • Kompos menjadi simbol keberdayaan, rekonsiliasi, dan regenerasi.
    • Warga mulai menulis blog, membuat konten, dan membangun identitas digital kampung.

    Kini, warga Keputih tidak hanya memproduksi pupuk, tapi juga memproduksi harapan. Mereka mulai mengadakan tur edukasi lingkungan untuk sekolah-sekolah sekitar. Anak-anak diajak melihat proses fermentasi, belajar memilah sampah, dan mendengar langsung kisah Bu Siti. Kampung yang dulu dijauhi, kini dikunjungi.

    “Saya senang kalau ada anak-anak datang. Mereka tanya macam-macam. Saya jadi merasa berguna.” — Bu Siti


    Penandatanganan simbolis program KBA Keputih
    Komitmen bersama antara warga, pemerintah, dan mitra untuk menjadikan Keputih sebagai kampung pembelajaran.
    Sumber: Dokumentasi kegiatan resmi – Kampung Berseri Astra Keputih

    Kegiatan ini bukan hanya mengubah citra kampung, tapi juga membangun koneksi antar generasi. Anak-anak belajar dari warga, dan warga belajar melihat masa depan lewat mata anak-anak.

    Bahkan warga yang awalnya skeptis mulai ikut terlibat. Mereka melihat bahwa perubahan bukan sekadar wacana, tapi sesuatu yang bisa dirasakan, disentuh, dan dibagikan. Kompos menjadi medium rekonsiliasi antara masa lalu dan masa depan.

    “Dalam dunia yang penuh kebisingan, kemampuan untuk fokus pada hal-hal kecil yang bermakna adalah bentuk keberanian.”
    — Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century

    Tanah yang Bicara

    Jika satu ember kompos bisa mengubah kampung, bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh satu tangan, satu ide, satu keberanian. Di Keputih, harapan tumbuh dari tanah yang dulu dibuang. Tanah yang dulu diam, kini bicara lewat fermentasi, lewat tangan warga, lewat keberanian untuk bermimpi.

    Kisah Keputih adalah kisah tentang keberanian kolektif. Tentang bagaimana satu ide kecil bisa menjadi gerakan besar. Tentang bagaimana tangan-tangan yang dulu ragu, kini percaya bahwa mereka bisa menciptakan perubahan.

    Di tengah krisis lingkungan yang makin nyata, kampung ini memberi pelajaran penting: bahwa solusi tidak selalu datang dari teknologi canggih atau kebijakan besar. Kadang, ia datang dari dapur, dari halaman belakang, dari tangan warga yang memilih untuk tidak menyerah.

    Kisah Bu Siti menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Ia bisa tumbuh dari keberanian sehari-hari—dari tangan yang tak menyerah, dari warga yang memilih bergerak. Dari rasa malu menjadi kebanggaan. Dari bertahan menjadi pembelajaran.

    Epilog: Dari Our Town ke Keputih

    Tulisan ini terinspirasi dari Our Town karya Thornton Wilder, yang mengajarkan bahwa makna hidup sering tersembunyi dalam hal-hal kecil yang kita abaikan. Di Keputih, saya melihat filosofi itu hidup: satu ember kompos, satu pelatihan, satu warga yang memilih bergerak. Bu Siti adalah cermin dari kita semua—yang pernah merasa malu, lalu belajar untuk bangga.

    “Kita hidup dalam momen-momen kecil yang sering kita abaikan. Tapi justru di sanalah makna hidup bersembunyi.” — Thornton Wilder

    Mungkin, kampungmu juga punya tanah yang menunggu untuk bicara. Mulailah dari satu ide, satu tangan, satu keberanian. Karena perubahan tidak selalu datang dari luar. Kadang, ia tumbuh dari dalam—dari tanah, dari hati, dari keberanian untuk bermimpi.

    Dan ketika satu kampung berubah, bukan hanya tanah yang bicara. Tapi juga masa depan yang menjawab. Masa depan yang tidak lagi malu, tapi bangga. Masa depan yang tidak lagi bertahan, tapi tumbuh.#APAxKBA2025

     Referensi Kutipan dan Artikel:

    Referensi Gambar:

    1. Gerbang Kampung Berseri Astra Keputih
      Sumber: Celoteh Kiky – Geliat Kampung Berseri Astra Keputih Surabaya
    2. Warga mengolah sampah di Rumah Kompos
      Sumber: detikNews – Warga Surabaya Bisa Dapatkan Kompos Gratis
    3. Papan informasi PLANET PARK
      Sumber: Dokumentasi lapangan – Kampung Berseri Astra Keputih, Surabaya
    4. Penandatanganan simbolis program KBA
      Sumber: Dokumentasi kegiatan resmi – Kampung Berseri Astra Keputih

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

    Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

    Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif