Putri Tentara: Keteguhan di Tengah Kehilangan-Cerpen Yusuf Achmad
Sebuah cerpen tentang keberanian, cinta keluarga, dan perjuangan melawan ketidakadilan dalam sunyi.
Di balik ketegasan seorang perempuan, sering tersembunyi luka yang tak terlihat. Putri Tentara bukan hanya kisah tentang Anisa dan ayahnya, tapi tentang bagaimana warisan nilai, keberanian, dan cinta bisa menjadi cahaya di tengah gelap. Cerpen ini lahir dari pengamatan, pengalaman, dan harapan akan dunia yang lebih jujur dan manusiawi.
Anisa
membuka buku kenangan masa SMA. Lembaran demi lembaran dipenuhi foto dan
tulisan tangan teman-teman. Matanya tertahan pada pesan dari Anas, sahabat
lamanya dari Madura:
“Odik
ruwah tak mesteh, odik susah mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas, se
bender usaha ben pasrah.”
Entah
mantra, entah puisi—kata-kata itu berdansa dalam benaknya. Di tengah desakan
orang tua untuk segera menikah, Anisa tetap memilih sendiri. Adik-adiknya telah
berkeluarga, namun ia masih bertahan dalam kesendirian yang ia anggap sebagai
pilihan, bukan keterpaksaan.
Di
beranda rumah mewahnya di Surabaya, ia duduk bersama ayahnya, seorang
purnawirawan tentara yang kini renta. Kisah masa muda sang ayah selalu menjadi
topik hangat. “Ayahku laki-laki hebat,” ucap Anisa pada Anas suatu hari. Ia
mewarisi ketegasan sang ayah—terlihat dari sikap dominannya di kantor.
Namun,
ketegasan itu mengundang bisik-bisik. “Bu Anisa ke ruangan Pak Mulyono lagi,”
gumam Arum pada Hanum. Isu persaingan antara Anisa dan Mulyono memanas,
terutama setelah pemecatan Pak Rizal karena kehilangan kabel mahal. Kini,
Mulyono diduga terlibat dalam kasus serupa.
Anas
melihat perubahan pada Anisa. Wajahnya muram, senyumnya dipaksakan. “Dipanggil
bos, ya?” tanya Anas.
“Cuma laporan yang diragukan,” jawab Anisa singkat. Tapi Anas tahu, ada yang
lebih berat.
Dengan
logat Madura, Anas mencoba mencairkan suasana.
“Odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas.”
“Artinya apa?” tanya Anisa.
“Hidup susah, mati susah, kadang di bawah, kadang di atas,” jawab Anas.
Kata-kata
itu tak cukup menenangkan Anisa. Sebagai anak tentara, ia tak mau menyerah. Ia
menyelidiki kasus itu dengan tekad baja. Hasilnya: tuduhan terhadap Mulyono
tidak benar. Pak Rizal memalsukan tanda tangan dan merekayasa bukti. Anisa
membuktikan kebenaran, seperti biasa—tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan.
Namun,
ujian baru datang. Ayahnya jatuh sakit. Di ruang ICU, Anisa ditemani ibunya dan
Anas, menunggu keajaiban. HP Anas tak lepas dari tangannya, namun kali ini
bukan karena pekerjaan. Ia menatap Anisa dengan empati, mengulang kata-kata
yang kini terasa seperti doa.
“Ibu, apa
maksud Anas dengan kata-kata Madura itu?” tanya Anisa.
Ibunya tersenyum, “Itu tentang hidup yang tak pasti. Tapi kita harus tetap
berusaha dan pasrah.”
Dokter
mendekat. “Ada dua jenis obat: satu menyembuhkan, satu mengakhiri.”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” bisik ibu dan Anas bersamaan.
Anisa
berlari ke ruang ICU. Ayahnya telah pergi. Ia menangis tersedu, meratapi
kepergian sang satria. Ibunya memeluknya, “Ini bukan akhir. Ayahmu telah bebas
dari penderitaan. Ingat pesannya: kita harus kuat.”
Anas
melantunkan dzikir yang telah menjadi mantra keluarga itu:
“Odik
ruwah tak mesteh, odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas, se
bender usaha ben pasrah.”
Dzikir
itu mengiringi jenazah sang ayah ke peristirahatan terakhir, menjadi pengingat
bahwa hidup adalah perjuangan antara usaha dan pasrah. Di antara kehilangan dan
keteguhan, Anisa berdiri sebagai putri tentara—tegak, meski dunia tak selalu
ramah.
Kita semua adalah pejuang dalam medan hidup masing-masing. Seperti Anisa, kita mungkin tak selalu menang, tapi kita bisa memilih untuk tetap tegak. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati bukan hanya soal melawan, tapi juga soal menerima, mencintai, dan terus melangkah.

Komentar
Posting Komentar