Binar yang Meneduhkan: Puisi Elegi tentang Senyum, Tatapan, dan Cahaya Abadi

 Binar yang Meneduhkan

Puisi Elegi tentang Sosok Agung dan Cahaya yang Abadi

Puisi ini lahir dari kerinduan pada sosok agung yang senyumnya meneduhkan, tatapannya bagai samudra, dan suaranya tak lekang oleh waktu. Binar yang Meneduhkan bukan sekadar elegi, melainkan doa yang mengalir dalam setiap huruf, cahaya yang menyuluh gelap dunia.

"Ilustrasi sosok agung dengan topi putih, kacamata hitam, dan mikrofon, melambai dalam sebuah acara. Simbol suara, senyum, dan cahaya yang abadi."

Kurindu senyummu,
mutiara hati yang meneduhkan.

Santri masih menunggu,
petuahmu bagai embun
jatuh di tanah retak.

Tatapanmu: samudra,
kadang biru, kadang hijau,
kadang putih bagai doa.

Suaramu: tak lekang,
tak lapuk, tak surut,
mengalir jadi sungai abadi.

Setiap hurufmu doa,
setiap kalimatmu cahaya,
menyuluh gelap dunia.

(Revisi: Surabaya, 14 Februari 2025)

Puisi ini dipersembahkan bagi guru yang pernah menyalakan cahaya dalam hidup kita. Meski beliau telah kembali ke keabadian, binarnya tetap meneduhkan jiwa. Semoga setiap kata menjelma doa, dan setiap baris memancar cahaya yang tak pernah padam.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif