Bahagia yang Menyala dari Luka
Catatan Sunyi dari Pena yang Menyala
Bahagia tak selalu datang dari tawa. Kadang ia tumbuh dari luka yang ditulis, dari sunyi yang dipeluk, dari makna yang perlahan menyala. Puisi ini tidak menjelaskan kebahagiaan—ia mengalaminya, mengalirkannya, dan membiarkan pembaca merasakannya sendiri.
(Revisi-Surabaya,
29 Desember 2024)
Jangan
tanya bagaimana bahagia datang
Ia tak selalu lewat pintu gaji atau gerbang pesta
Kadang ia menyelinap di sela napas
di antara sunyi yang tak meminta
dan langkah yang tak tergesa
Bahagia
bukan di tangan uang
bukan di meja hiburan atau malam yang gemerlap
Ia bisa lahir dari diam
dari duduk yang tak beranjak
dari mata yang menatap langit
tanpa harap, tanpa keluh
Aku
duduk, menggenggam pena
menulis luka, menulis cahaya
Kadang bahagia tumbuh dari hobi yang dicinta
kadang dari derita yang tak sempat bicara
Zikir mengalir, yoga menenangkan
tapi kata—kata adalah pelipur yang paling setia
Bagi yang
muda: jelajahilah dunia
temukan jati diri di antara debu dan cahaya
Tumbuhkan mimpi, kobarkan semangat
Cintailah ilmu, ciptakan karya
temukan inspirasi dalam langkah yang tak sia-sia
Bagi
ayah-bunda: jagalah anak seperti menjaga doa
Bagi kakek-nenek: rawatlah cucu seperti merawat waktu
Bagi sahabat: berbagilah tawa dan duka
Bagi semua: temukan cinta dalam perkara yang sederhana
Aku
tersenyum, merasakan pelukan
hangatnya tak berasal dari tubuh
melainkan dari makna yang menyatu
Bahagia bukan hasil
ia adalah proses
ia adalah cara jiwa menyembuhkan dirinya
Dan jika
ada yang bertanya:
Bagaimana mungkin puisi lahir dari bahagia,
bukan dari luka, lara, darah, perjuangan?
Maka biarlah bait ini menjawab:
Bahagia tak menolak luka
ia menyala darinya
Karena menulis bukan pelarian
melainkan penyalaan
melainkan penyembuhan
melainkan jalan pulang
Menulis bukan sekadar mencatat rasa. Ia adalah cara jiwa menyembuhkan dirinya. Bahagia bukan hasil, tapi proses. Dan puisi adalah jalannya.
Komentar
Posting Komentar