Bahasa sebagai Bahtera: Menyusuri Nyamplungan dan Timur Nusantara dalam Puisi Yusufachmad Bilintention

Refleksi budaya, bahasa, dan persaudaraan dalam lanskap literasi Indonesia

Refleksi spiritualitas, dan persaudaraan Indonesia


Puisi ini lahir dari lorong batin dan jejak budaya yang menyatu dalam perjalanan literasi. Dari Nyamplungan yang lirih hingga Timur Nusantara yang gemetar oleh makna, bait-bait ini mengajak kita menyelami bahasa sebagai bahtera terakhir warisan bangsa. Ditulis dalam suasana reflektif, puisi ini menjadi rakit rasa yang menghubungkan sahabat pena dari Padang, Palembang, hingga Biak dan Tanimbar. Di tengah dunia yang gaduh oleh politik dan hukum yang bersilang, puisi ini menawarkan bahasa sebagai ruang persaudaraan dan penyelamatan sejarah.

Puisiku dibaca di antara mereka—
dimamah makna, ditenggak sunyi,
diksi diendus, dijelajahi hingga rongga jeda,
seolah ruh penyair menyusup di sela aksara yang hening.

Namaku terucap: sejiwa, katanya,
bagai kitab separuh tersurat, separuhnya lagi ditulis derita.
Lalu berhembus bisik:
"Penyair telah wafat dalam bait-baitnya sendiri."

Namun Nietzsche menyela dari jendela senyap—
bukan sebagai filsuf,
melainkan luka berwajah teduh
yang pernah kutemui di ambang mimpi.

Kuangguk pelan.
Sayup suara-suara Timur menyusur kembali,
menapaki lorong Nyamplungan,
mendaki jeda,
menyeberangi samudra kata yang gemetar.

Dari Padang dan Palembang datang sahabat pena,
Papua mengirim malam beraroma cendana.
Puisiku menjelma rakit rasa,
menyatukan kami dalam rampak makna—
huruf, bunyi, dan sunyi berpaut dalam tarian mesra.

Lahir saudara, lahir asmara—
rendang menyapa yang luka,
pempek menyusup ke urat memoriku,
gulai dan roti Maryam menyatukan lidah
di antara batu Papua dan Nyamplungan yang lirih berseru.

Lalu puisiku menggema:
"Jika budaya dan ilmu kauasingkan dari bumi,
bangsa ini terapung,
dan cucu-cicitmu—
tumbuh di atas akar yang tercerabut dari tanah."

Namun penyair dari Barat dan ilmuwan dari Timur bersua,
menulis cakrawala tanpa panji, tanpa peluru,
didayung penggede dari Tanimbar,
ditopang nakhoda dari Biak yang tahan gelombang badai.

Meski dunia gaduh oleh politik dan hukum yang bersilang,
kami bersetia:
bahasa adalah bahtera terakhir
yang menyelamatkan warisan dari karamnya sejarah.

Surabaya, 5-8-2025

Bahasa, budaya, dan ilmu bukan sekadar warisan, melainkan napas yang menyatukan kita di tengah gelombang zaman. Dari Nyamplungan hingga Timur Nusantara, puisi ini menjadi saksi bahwa kata-kata mampu menjembatani luka, menyatukan rasa, dan menyelamatkan akar dari tercerabutnya tanah. Mari terus menulis, membaca, dan merawat warisan batin bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif