Katamu–Kataku: Nyawa Aksara dalam Harmoni Bumi Pertiwi

 Katamu-Kataku

Puisi tentang keberanian kata, pusaka nurani, dan harmoni budaya dalam lorong sunyi literasi

Dalam lorong sunyi literasi, kata bukan sekadar bunyi. Ia adalah nyawa, pusaka, dan keberanian yang tak gentar. Puisi ini lahir dari pertemuan batin antara “katamu” dan “kataku”—dua nurani yang bersalaman dalam keheningan, namun berdenting seperti gamelan di pangkuan bumi pertiwi.


Surabaya, 4 Februari 2025

Pintu itu terguncang oleh katamu—
meski maknanya belum sepenuhnya kutahu.
Hanya “akumu” dan “akuku” bersalaman,
bukan dengan lima jari,
melainkan dengan nurani yang tak bertepi.

Jariku dan jarimu menjaring aksara yang terbuang,
dari adat yang mengakar,
erat seperti simpul tali pusaka.
Meski tak selalu selamat,
bukan hanya peluru yang mengintai,
tapi pilu yang mengendap di balik kata.

Ketika mati bukanlah mutiara,
namun kata adalah pusaka tak ternilai.
Jika mereka berseru untuk tetap hidup,
biarlah katamu dan kataku
menjadi nyawa dalam huruf yang tak gentar.

Bukan sekadar konsonan yang tak bersuara,
tapi vokal yang memekik jati diri.
Tak hanya berjalan di lorong sunyi,
tapi berlari menembus batas,
tanpa gentar, bukan sekali,
melainkan ribuan kali—seperti ombak tak henti.

Pedih dan peri tak lagi berarti,
tak perlu rayuan,
tak perlu wajah berseri.
Katamu dan kataku berpadu,
menjadi satu dalam harmoni,
bagai gamelan yang berdenting
di pangkuan bumi pertiwi.

Ketika dunia terus berubah, biarlah kata tetap menjadi jangkar. Bukan sekadar aksara, tapi nyawa yang menolak tunduk. “Katamu–Kataku” adalah ajakan untuk menulis dengan keberanian, membaca dengan nurani, dan hidup dalam harmoni budaya yang tak henti berdenting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif