Hiruk Pikuk Pertanyaan: Puisi tentang Logika, Rasa, dan Ketidakpastian oleh Yusuf Achmad

 Hiruk Pikuk Pertanyaan: Puisi tentang Logika, Rasa, dan Ketidakpastian

Merenungi makna di balik tanya: siapa, apa, mengapa, dan bagaimana

Di tengah gemuruh dunia pendidikan dan logika sosial, kita sering terjebak dalam pertanyaan yang tak kunjung selesai. Puisi ini lahir dari ruang batin yang resah namun jernih—sebuah refleksi tentang makna di balik hiruk pikuk tanya. Ia bukan sekadar gugusan kata, melainkan undangan untuk merenung: bahwa tidak semua harus dijawab, dan tidak semua yang dijawab membawa ketenangan.

Surabaya, 22 Mei 2025

Siapa berani berkata bahwa sekolah dan kuliah pasti mengantar pada sukses?
Siapa menyangka si kecil mampu menggapai megah tanpa ijazah?
Siapa berani menjamin arus kehidupan selalu mengalir sesuai harapan?
Siapa hendak bertanya tentang siapa?

Hiruk pikuk pertanyaan yang berulang—
seakan makna hanya tentang “siapa,”
Namun di baliknya,
ada yang lebih dalam, lebih sunyi, lebih menantang.

Lalu, mengapa kita gemuruh dalam pertanyaan tanpa akhir?
Haruskah setiap tanya menemukan jawabnya?
Haruskah segala kejadian tunduk pada logika belaka?
Apakah “apa” lebih rendah dari “siapa”?
Di manakah kebenaran bertempat tinggal?

Mungkin, “mengapa” menyimpan kesejatian logika,
Atau justru “bagaimana” yang meruntuhkan batas-batasnya.
Lihatlah si bocah bertanya lugu:
“Kenapa dokter menyuntik di pantatku, padahal kepalaku yang sakit?”
Atau mereka yang merumuskan dalil-dalil agama:
“Mengapa harus berwudu dan membasuh muka sebelum bersujud?”

Pertanyaan “mengapa” terus berkelindan
di segenap ruang pikir manusia.

Seolah segalanya mesti tunduk pada nalar semata,
Namun bagaimana jika rencana telah ditakar, dipikir, dihampar,
lalu hancur begitu saja?
Bagaimana jika bangunan megah baru saja berdiri,
lalu roboh dihempas gempa?
Bagaimana jika puisi hanya deretan suara
tanpa gema bagi mereka yang tak bersuara?

Ia mengembara ke relung hati para pemilik jiwa bening,
Bukan mereka yang terpenjara
dalam hiruk pikuk pertanyaan tanpa akhir:
Siapa, apa, mengapa, dan bagaimana.

Puisi ini adalah ruang jeda bagi mereka yang lelah mencari jawaban. Ia tidak menawarkan kepastian, tetapi membuka pintu kontemplasi. Di dunia yang gemuruh oleh tuntutan dan logika, barangkali yang kita butuhkan bukan jawaban, melainkan keberanian untuk tetap bertanya—dengan hati yang bening dan jiwa yang lapang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif