Di Ambang Suara dan Sunyi
<h2>Puisi Reflektif tentang Sunyi, Kesadaran, dan Dengung Malaikat</h2>
<p><em>Sunyi menggelegar, nyamuk kecil membisikkan kesadaran—di antara zikir dan prasangka, suara menjadi cahaya.</em></p>
</p>Telinga, rasa, pikiran berpadu </p>
Bercengkerama dalam remang kabur
Detak jantung berbisik, perut
menggemuruh
Mulut merintih, mengadu,
memohon
Pasrah hanyut, “opo jare...”
</p>Ruangan ini, ubin menapak
kaki
Angin kecil menjelajahi sunyi
Deru hati tetap berseru <br>
Sementara bibir tak henti
berzikir
</p>Tiba-tiba diri menjelma ulama
Tanpa dosa, hanya berkah semata <br>
Menafsir isi hati manusia dan
setan durjana
Menghakimi sesama, memerintah bak raja <br>
Menindas jiwa, mengurung pikiran
dalam prasangka
</p>Untung ada nyamuk kecil di
telinga
Sayapnya bergetar, membisikkan
kesadaran
Jika diri rapuh, kalah oleh dengung nyamuk <br>
Ia kecil, tak merasa hina
Ia terbang, tanpa merasa jumawa <br>
Sayapnya rapuh, namun suaranya
abadi <br>
Menggema bak dengung malaikat
Surabaya, 15 April 2025

Komentar
Posting Komentar