Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

 Puisi tentang perjalanan hidup, ilusi panggung, dan kesadaran akan keterbatasan memiliki.

Dalam hidup, kita sering melangkah dari satu panggung ke panggung lain, berharap bunga-bunga mekar di setiap sudutnya. Tapi tak semua panggung agung, tak semua bunga wangi. Puisi ini adalah refleksi tentang perjalanan, jeda, dan kesadaran bahwa tak semua yang kita genggam benar-benar kita miliki.

sumber: AI-Copilot


1.     

Panggung demi panggung terbuka, 

Bunga demi bunga merekah, 

Kadang kumbang menghalang, 

Kadang hujan dan panas menerpa. 

 

Entah panggung keberapa telah kulalui, 

Entah bunga mana menguar wangi, 

Atau si kumbang menggores luka, 

Membiarkan roda hidup berputar dalam ilusi. 

 

Kadang panggung tak seagung angan, 

Saat jeda menikung tajam, 

Kadang wangi bunga menghilang, 

Saat tanahnya kering, tak lagi dikenang. 

 

Tak semua menerima saat panggung ditutup, 

Tak semua ingat wangi bunga yang sirna, 

Kumbang tetap datang dan pergi, 

Meski panggung terus berdiri. 

 

Ada yang berteman dengan kumbang, 

Terbang di atas panggung melenggang, 

Menggenggam bunga semerbak wangi, 

Membaginya, sadar tak pernah benar-benar memiliki. 

 

Duhai panggung, duhai bunga, 

Kau punya jeda. 

Kala semua sirna—tiada. 

 

Surabaya, 4 Februari 2025 

“Ada Jeda, Ada Tiada” bukan sekadar puisi tentang kehilangan, tapi tentang penerimaan. Bahwa dalam setiap panggung, ada jeda yang tak bisa kita hindari. Dan dalam setiap bunga, ada wangi yang bisa hilang. Tapi justru di sanalah letak makna: dalam kesementaraan, kita belajar merawat yang ada.

 



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif