Si Abu-Abu – Cerpen Reflektif tentang Identitas, Perbedaan, dan Cinta Sejati
Cerpen ini mengisahkan konflik rumah tangga antara Anisa dan Jarno yang dipicu oleh isu kesukuan dan empati. Di tengah pertengkaran, seekor kucing abu-abu menjadi saksi bisu dan simbol penerimaan lintas identitas. Cerita berujung pada pemulihan batin dan pemahaman bahwa cinta sejati tumbuh di antara perbedaan.
Cerpen ini menyoroti luka batin akibat stereotip suku dan latar keluarga. Dialog antara Anisa dan Jarno membuka ruang refleksi tentang prasangka dan harga diri.
“Dasar
kamu suami yang tidak punya perasaan. Individualis, hanya mau menang sendiri.
Ternyata begini ya perangai orang Jawa. Mentang-mentang keluargaku yang sakit,
kamu tidak mau mengunjungi. Coba kalau keluargamu yang sakit?” ucap Anisa
dengan nada tinggi, suaranya bergetar menahan amarah.
“Anisa,
jangan sembarangan kamu, nyangkut-nyangkut suku segala. Mending kamu aku
nikahi. Jangankan sukuku, orang Arab dari familimu pun tidak ada yang
menanyakanmu,” balas Jarno, suaranya menggelegar dengan ketidakterimaan yang
nyata.
Setelah
pertengkaran itu, Anisa banyak terdiam. Ia sangat sakit hati, tersinggung,
merasa harga dirinya diinjak-injak. Jarno pernah bertanya mengapa hampir semua
keluarga istrinya mengidap darah tinggi. Anisa merasa terhina setiap kali
suaminya menyebut-nyebut hal-hal berbau kesukuan. Namun karena pertanyaan itu
disampaikan sambil bergurau, ia tetap menjawabnya.
“Aku
nggak tahu. Benar Abaku suka makan daging kambing, tapi Ummi lebih menyukai
sayur-mayur. Kalau aku biasa saja. Demikian juga dengan saudara-saudaraku.”
Jarno tak menanggapi sepatah kata pun.
Ia
teringat nasihat gurunya: jangan hanya gunakan akal saat menghadapi istri. Tapi
pertengkaran itu membuatnya mengabaikan semua ilmu mengaji dan rasa kasihannya.
Mungkin ada setan besar yang membisikkan keangkuhan, atau mungkin hanya nafsu
dominan laki-laki yang tak mau dikalahkan oleh seorang Anisa. Yang jelas, Jarno
tak mau meminta maaf.
Begitu
pula Anisa. Ia menyesal, tapi tak ingin jadi yang pertama meminta maaf.
Kata-kata pedas itu keluar begitu saja, di luar kesadaran sehatnya. Ia memilih
diam. Diam yang menggiringnya melamun, menerawang ke masa sekolah.
Dari SD
hingga SMA, Anisa selalu menjadi pengurus kelas. Meski bukan siswa terpandai
saat SD, ia menempati ranking pertama di antara teman-teman perempuannya.
Ranking kelas diraih Amir, teman laki-lakinya yang menjadi inspirasinya. Di
SMP, ia jadi bintang kelas sekaligus ketua kelas. Prestasi itu berlanjut ke SMA
swasta di pinggiran kota, meski bukan sekolah negeri yang jadi kebanggaan orang
tua.
Namun
ketika ia bergaul di masyarakat yang lebih luas, segalanya berbalik. Ia menjadi
gadis yang mudah tersinggung, terutama bila ada yang mempermasalahkan
kesukuannya. Ia tak habis pikir: mengapa perbedaan suku harus jadi masalah?
Bukankah agama mengajarkan untuk tidak saling membeda-bedakan?
Pernah ia
marah pada Abanya yang menolak meminjamkan uang kepada tetangga karena ia orang
Batak dan bukan Islam.
“Aba
kikir. Katanya aku harus banyak menolong orang, tapi kenapa Aba memberikan
seribu alasan untuk menolak membantu Pak Tigor?”
“Tahu apa ente. Ente masih zhukur, belum mengerti apa-apa,” jawab sang Aba
dengan dialek khas kampungnya yang dihuni keturunan Arab, Madura, dan Banjar.
Anisa
merasa diperlakukan seperti anak kecil, meski usianya sudah 17 tahun. Ia juga
pernah bersitegang dengan Zakia, teman perempuannya yang berdarah Arab.
“Kalau
kita bersuami pemuda Arab, Allah akan memuliakan dan menjamin surga bagi kita,”
kata Zakia.
“Artinya kalau kita menikahi pemuda bukan Arab, kita tidak dijamin masuk
surga?”
“Iya, kata familiku, itu ada hadistnya.”
“Itu
bertentangan dengan al-Qur’an. Allah hanya mengangkat derajat manusia
berdasarkan takwa dan amal baik. Hadist yang bertentangan dengan al-Qur’an
patut diragukan kesahihannya,” bantah Anisa.
Zakia
tergagap, lalu mengalihkan pembicaraan.
Aku
bersuara keras, membuyarkan lamunan Anisa. Mungkin karena lapar, atau karena
majikanku hanya duduk melamun tanpa menghiraukanku. Aku mengeong keras,
berharap dia menyadarinya.
“Baiklah
sayangku, aku siapkan makanmu di belakang,” sahut Anisa. Matanya berkaca-kaca,
tubuhnya lemah. Aku, si Abu-Abu, kucing lucu hasil perkawinan kucing Jawa dan
Persia, mengingatkan identitasnya: lahir dari ayah Arab dan ibu Jawa.
Anisa
berusaha berdiri menuju dapur, lalu—“kedebuuk!”—suara keras terdengar. Jarno
terkejut. “Jangan, jangan, jangan,” bisiknya. Benar, Anisa terjatuh. Dengan
panik, Jarno mencari pertolongan dari tetangganya yang dokter. Anisa segera
dibawa ke rumah sakit.
Pagi itu,
Jarno tidak bekerja. Ia menunggui istrinya yang dirawat inap. Keluarga
bergantian menjenguk. Doa, buah, dan canda kecil menyertai kedatangan mereka.
Dokter menjelaskan bahwa Anisa mengalami gejala stroke ringan akibat tekanan
emosional berat.
Dengan
mata berkaca-kaca dan bibir bergetar, Anisa memohon maaf. Jarno membalas dengan
mencium kening istrinya. Ia pendam kegelisahan dan rasa bersalah.
Suatu
hari, Anisa duduk di beranda rumah. Seorang perempuan tua datang: Mbah Jennah,
tetangga bijak dari Kampung Nyamplungan.
“Kamu
tahu, anakku,” kata Mbah Jennah, “kehidupan ini seperti pohon besar dan tinggi
yang kokoh. Akar-akarnya mewakili asal kita, berbeda-beda namun tetap bersatu.
Cabangnya menjulang, seperti perbedaan kita. Tapi di bawah naungan
daun-daunnya, kita semua bisa bersama.”
Anisa
terdiam, merenung.
“Cinta sejati tidak mengenal batas,” lanjut Mbah Jennah. “Ia tumbuh di antara
perbedaan dan menghubungkan kita semua. Belajarlah dari pohon itu.”
Sesaat
setelah itu, tiada suara terdengar kecuali suara meonganku. “Meong, meong,
meong,” begitu seterusnya. Dalam kesederhanaan dan kebersamaan dengan kucing
kesayangannya, Anisa menemukan kedamaian. Ia memahami bahwa kehidupan yang
indah adalah ketika kita saling menghormati, tanpa memandang suku, agama, atau
ras.
Warna
kuning lampu langit-langit yang redup menyelimuti rumah saat Jarno membawa
pulang istrinya. Kesehatan Anisa perlahan pulih, meski bayang-bayang ancaman
masih menghantui.
“Istri
bapak mengidap hipertensi. Jika tidak ditangani, risikonya besar,” jelas
dokter.
“Baik, dok, akan saya perhatikan,” jawab Jarno.
“Hipertensi bisa berujung stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal
ginjal.”
“Baik, dok, saya akan jaga istri saya.”
Seolah
tak pernah sakit, Anisa kembali aktif. Ia membersihkan piring dan lantai rumah.
Aku menggeliat manja di kakinya.
“Sudah makan, sayang?” tanya Anisa lembut.
“Meong, meong,” balasku, suara serak-serak basah.
“Bahagia
sekali menjadi dirimu, Abu-Abu. Meski bukan keturunan kucing Jawa asli, tak ada
kucing lain yang mempermasalahkan. Dunia kalian dipenuhi penerimaan dan kasih
tanpa syarat. Kamu tidak pernah mempermasalahkan asal-usul. Indahnya kehidupan
bila saling menghormati, membantu, dan menghargai, mengabaikan latar belakang.”
Aku hanya
menjawab dengan, “Meong, meong,” lalu melepaskan diri dari pangkuannya. Mungkin
‘meong’ itu adalah doa kucing, mengamini harapan dan cita-cita Anisa.
Ia tidak
ingin orang lain terkena stroke atau serangan jantung hanya karena
membeda-bedakan asal usul dan keturunan. Mungkin aku tidak tahu dan tidak
peduli, atau mungkin, hanya hewan seperti aku yang bisa benar-benar memahami.
Di antara
keheningan, hanya suaraku yang terus berbunyi:
“Meong, meong, meong.”
Refleksi Penulis
Cerpen ini lahir dari keprihatinan terhadap konflik identitas yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tokoh Anisa dan si Abu-Abu, saya ingin menyampaikan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang harus dirawat dengan cinta dan pengertian.
Sebagai penyair dan pendidik, saya percaya bahwa sastra adalah ruang penyembuhan. Cerpen ini adalah doa kecil agar kita semua belajar dari kucing: menerima tanpa syarat, mencintai tanpa prasangka.

Komentar
Posting Komentar