Rindu Terpendam: : Cerpen Reflektif tentang Kehilangan dan Doa Batin
Makna Rindu, Refleksi Spiritual, Tentang Penulis.
Refleksi Spiritual
Peluit
nyaring memecah keramaian jalan saat Pak Nizam, seorang polisi berwibawa dengan
sorot mata tenang, menghentikan motor yang dikendarai Anto dan Anas. Dengan
sikap sopan namun tegas, ia meminta dokumen kendaraan.
“SIM dan
STNK, silakan,” ucapnya, nada suaranya bersih dari intimidasi.
Anto
menyerahkan dokumen dengan raut wajah gelisah. Setelah memeriksa, Pak Nizam
berkata, “Anda melanggar rambu larangan. Jalan ini satu arah.”
“Pak,
saya tidak melihat tanda itu. Tertutup pohon,” Anto membela diri, suaranya
menahan amarah.
“Tidak
ada alasan untuk melawan hukum. Anda tetap salah jalan,” jawab Pak Nizam,
otoritasnya tak tergoyahkan.
“Saya
mahasiswa, Pak. Saya tidak bersalah. Apa yang Bapak inginkan dari kami?” nada
Anto meninggi. Anas segera turun tangan, “Maaf, Pak. Teman saya sedang banyak
pikiran.”
Anto tak
bisa menahan emosi. “Saya tidak takut dengan polisi!”
“Anto,
biarkan aku bicara,” Anas menenangkan.
Pak Nizam
menatap mereka sejenak, lalu menghela napas. “Saya mengerti. Tapi jangan ulangi
kesalahan ini.” Ia mengembalikan dokumen, lalu bertanya, “Kalian tahu di mana
saya bisa dapatkan buku ini?” Ia menunjukkan secarik kertas berisi judul buku
yang dicari anaknya.
“Oh, buku
itu? Ada di toko Blauran, Pak,” jawab Anas.
Pak Nizam
tersenyum, matanya melembut. “Terima kasih. Jaga diri kalian.”
Di warung
kopi, Anto masih takjub. “Itu tadi kamu? Gila, aku nggak percaya. Sampai polisi
itu membebaskan kita.”
Anas
tertawa ringan. “Kadang, ketenangan lebih kuat dari kemarahan.”
Anto
mengenang masa lalunya. “Dulu, aku dan teman-teman lebih suka melawan. Kami
muak dengan perilaku polisi.”
“Tak
semua polisi seperti itu. Pak Nizam tadi buktinya,” Anas menimpali.
Obrolan
berlanjut ke masa lalu. “Kami sering begadang, main catur, merokok, berbagi
cerita,” kata Anto.
“Rokok
dari mana? Ayahmu pensiun,” tanya Anas.
“Kami
preman, katanya. Tapi kami tak pernah mengganggu. Bahkan sering bantu acara
kampung.”
Anto
menatap langit. “Jangan mencintai seseorang 100%. Cinta yang terlalu dalam bisa
berubah jadi benci.”
Anas
terkejut. “Apa salahnya mencintai Wati sepenuh hati?”
“Tak ada
yang salah. Tapi antara cinta dan benci, hanya selembar tipis,” jawab Anto.
Beberapa
bulan kemudian, kecelakaan kecil menimpa mereka. Anas dirawat di rumah sakit.
Di kamar yang sunyi, ia berkata, “Andai aku mendengarkanmu, mungkin tak begini
jadinya.”
Anto
menepuk bahunya. “Yang penting kamu sembuh. Kita kuliah lagi. Jangan keras pada
dirimu. Semua orang pernah salah.”
Anas
menatap langit-langit. “Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Tanpa rasa
sakit ini.”
“Kita
akan lewati ini bersama. Tentang Wati, mungkin dia bukan yang terbaik. Kamu
pantas dapat yang menghargaimu.”
Anas
tersenyum, matanya berkaca. “Terima kasih, Bro. Aku beruntung punya sahabat
sepertimu.”
“Selalu,
Bro. Kita saling jaga.”
Setelah
sembuh, Anas aktif di kampus. Ia mencoba melupakan Wati, tapi bayangannya tetap
menghantui. Di sebuah acara kampus, ia melihat Wati berdansa dengan pria lain.
Hatinya hancur, tapi ia menahan diri.
Ia pergi
ke sudut sepi, duduk di bawah pohon besar. Anto menyusul. “Kenapa di sini?
Acara masih jalan.”
“Aku butuh waktu sendiri,” jawab Anas.
“Kamu
masih mencintainya?”
Anas
mengangguk. “Sulit melupakan.”
“Cinta
memang rumit. Tapi kamu harus belajar melepaskan.”
“Mungkin
kamu benar. Tapi rasanya belum selesai.”
“Kalau
begitu, temui dia. Katakan isi hatimu. Setidaknya kamu tak menyesal.”
Keesokan
harinya, Anas menunggu Wati di tempat biasa.
“Wati,
aku perlu bicara.”
“Apa yang
ingin kamu katakan?”
“Aku
masih mencintaimu. Sulit melupakan. Aku tahu kamu mungkin sudah punya yang
lain, tapi aku ingin kamu tahu.”
Wati
terdiam, lalu berkata, “Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi keadaan
berubah. Aku sudah mencoba move on.”
Anas
mengangguk, meski hatinya perih. “Aku mengerti. Terima kasih sudah
mendengarkan.”
“Kamu
orang baik, Anas. Suatu hari nanti, kamu akan temukan cinta yang tepat.”
Anas
tersenyum pahit. “Semoga kamu bahagia.”
Anas
mulai fokus pada masa depan. Ia menemukan minat baru di musik dan seni.
Dukungan dari Anto membuatnya kuat.
Suatu
malam, ia bermain gitar di bawah pohon besar. Kedamaian menyelimuti.
Anto
datang. “Kamu terlihat lebih bahagia.”
“Aku
belajar melepaskan dan menerima. Hidup ini panjang dan penuh kejutan.”
Anto
menepuk bahunya. “Itulah semangat sahabatku. Ayo, kita jalani hidup ini dengan
semangat.”
Anas
tersenyum. Ia tahu, dengan sahabat seperti Anto, ia bisa menghadapi apa pun.
Refleksi Penulis Rindu dalam cerpen ini bukan sekadar rasa kehilangan, tapi doa yang tak terucap. Ia hidup dalam diam, dalam tatapan yang tak sempat bertemu, dan dalam lagu yang hanya dimainkan di hati.
Dalam sunyi, kita belajar bahwa rindu adalah bahasa batin yang paling jujur. Ia tidak meminta balasan, hanya ingin dikenang. Cerpen ini lahir dari ruang batin yang pernah kehilangan, dan masih menyimpan harapan.
Semoga “Rindu Terpendam” bisa menjadi cermin bagi siapa pun yang pernah menyimpan rindu. Karena dalam setiap kehilangan, ada doa yang terus hidup. Dan dalam setiap doa, ada cinta yang tak pernah padam.
Baca juga karya saya lainnya: Puisi;Artikel;Cerpen di suaraanaknegerinews.com Menyulam Mitos, Menghidupkan Kemanusiaan https://suaraanaknegerinews.com/menyulam-mitos-menghidupkan-kemanusiaan/ via @Suara Anak Negeri News Atau di https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283

Komentar
Posting Komentar