Putri Tentara: Dzikir dan Ketegasan dalam Cerpen Yusuf Achmad

 

Putri Tentara: Dzikir, Ketegasan, dan Cinta yang Tak Menyerah

Ketika Hidup Menuntut Usaha dan Pasrah

https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/6892b428ed64154148787693/putri-tentara-yusufachmad-bilintention 

Cerpen ini mengangkat kisah Anisa, anak seorang purnawirawan tentara, yang menghadapi tekanan hidup, konflik kantor, dan kehilangan orang tua. Dengan latar Surabaya dan logat Madura yang khas, Yusuf Achmad-Bilintention menulis dengan kedalaman spiritual dan sosial yang menyentuh. Dzikir “Odik ruwah tak mesteh…” menjadi benang merah yang menguatkan karakter dan pembaca dalam menghadapi ketidakpastian hidup.


<img src="putri-tentara-muslim.jpg" alt="Ilustrasi pemakaman Muslim: seorang wanita muda berdoa di samping ibunya, dengan pria berdzikir di latar belakang, menggambarkan suasana haru dan keikhlasan dalam cerpen Putri Tentara karya Yusuf Achmad-Bilintention">

“Odik ruwah tak mesteh, odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas, se bender usaha ben pasrah.” Dzikir itu mengiringi jenazah sang ayah ke peristirahatan terakhir, menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjuangan antara usaha dan pasrah.


Anisa membuka buku kenangan masa SMA. Halaman demi halaman dipenuhi foto dan tulisan tangan teman-teman. Matanya tertahan pada kata-kata dari Anas, kawan lamanya dari Madura:

Odik ruwah tak mesteh, odik susah mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas, se bender usaha ben pasrah.
Entah mantra, entah puisi—kata-kata itu berdansa dalam benaknya. Di tengah desakan orang tua untuk segera menikah, Anisa tetap sendiri, meski adik-adiknya telah berkeluarga.

Di beranda rumah mewahnya di Surabaya, ia duduk bersama ayahnya, seorang purnawirawan tentara yang kini renta. Kisah masa muda sang ayah selalu menjadi topik hangat. “Ayahku laki-laki hebat,” ucap Anisa pada Anas suatu hari. Ia mewarisi ketegasan sang ayah—terlihat dari sikap dominannya di kantor.

Namun, di balik ketegasan itu, desas-desus beredar. “Bu Anisa ke ruangan Pak Mulyono lagi,” bisik Arum pada Hanum. Isu persaingan antara Anisa dan Mulyono memanas, terutama setelah pemecatan Pak Rizal karena kehilangan kabel mahal. Kini, Mulyono diduga terlibat dalam kasus serupa.

Anas melihat perubahan pada Anisa. Wajahnya muram, senyumnya dipaksakan. “Dipanggil bos, ya?” tanya Anas. “Cuma laporan yang diragukan,” jawab Anisa singkat. Tapi Anas tahu, ada yang lebih berat.

Dengan logat Madura, Anas mencoba mencairkan suasana. “Odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas.”
“Artinya apa?” tanya Anisa.
“Hidup susah, mati susah, kadang di bawah, kadang di atas,” jawab Anas.

Kata-kata itu tak cukup menenangkan Anisa. Sebagai anak tentara, ia tak mau menyerah. Ia menyelidiki kasus itu dengan tekad. Hasilnya: tuduhan terhadap Mulyono tidak benar. Pak Rizal memalsukan tanda tangan dan merekayasa bukti. Anisa membuktikan kebenaran, seperti biasa.

Namun, ujian baru datang. Ayahnya jatuh sakit. Di ruang ICU, Anisa ditemani ibunya dan Anas, menunggu keajaiban. HP Anas tak lepas dari tangannya, namun kali ini bukan karena pekerjaan. Ia menatap Anisa dengan empati, mengulang kata-kata yang kini terasa seperti doa.

“Ibu, apa maksud Anas dengan kata-kata Madura itu?” tanya Anisa.
Ibunya tersenyum, “Itu tentang hidup yang tak pasti. Tapi kita harus tetap berusaha dan pasrah.”

Dokter mendekat. “Ada dua jenis obat: satu menyembuhkan, satu mengakhiri.”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” bisik ibu dan Anas bersamaan.

Anisa berlari ke ruang ICU. Ayahnya telah pergi. Ia menangis tersedu, meratapi kepergian sang satria. Ibunya memeluknya, “Ini bukan akhir. Ayahmu telah bebas dari penderitaan. Ingat pesannya: kita harus kuat.”

Anas melantunkan dzikir yang telah menjadi mantra keluarga itu:
Odik ruwah tak mesteh, odik susah, mateh susah, kadang e bebeh, kadang e atas, se bender usaha ben pasrah.
Dzikir itu mengiringi jenazah sang ayah ke peristirahatan terakhir, menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjuangan antara usaha dan pasrah.

 Cerpen ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang kekuatan batin yang lahir dari cinta dan dzikir. Yusuf Achmad-Bilintention menulis dengan kepekaan yang mendalam, menjadikan kisah ini sebagai cermin perjuangan hidup yang tak selalu pasti, namun selalu bermakna. Semoga pembaca dapat menemukan kekuatan spiritual dalam setiap bait dan dialog yang tertulis.

Cerpen ini saya tulis sebagai penghormatan bagi mereka yang hidup dalam ketegasan, namun tetap menyimpan kelembutan dalam doa dan dzikir. Semoga pembaca dapat merasakan kekuatan spiritual yang saya coba hadirkan melalui kisah Anisa dan sang ayah. Terima kasih kepada semua pembaca yang terus mendukung karya sastra yang berakar pada nilai-nilai lokal dan spiritualitas universal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif