Catatan Awal atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar: Mitos sebagai Cahaya Spiritual dan Ilmiah
Catatan Awal atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar
### Mitos: Dari Simbolik ke Transformasi Sosial ### Teologi Hidup: Bultmann, Tillich, dan Bahasa Transenden ### Jung dan Arketipe: Mitos sebagai Lanskap Batin ### Dari Myth Within Us ke Sun-Shattering: Evolusi Spiritualitas ### Masyarakat Adat Tanimbar: Mitos yang Dihidupi ### Disertasi dan Jembatan Budaya: Prof. Pangemanan sebagai Mediator
## Pengantar Spiritual dan Ilmiah oleh Mina M. Ramirez, Ph.D
Catatan
Awal atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar
(Pengantar Mina M. Ramirez, Ph.D)
Oleh Yusuf Achmad – Bilintention
Dalam pengantar khusus yang
ditulis oleh Mina M. Ramirez, Ph.D., saya menemukan
bukan sekadar sambutan akademik, melainkan sebuah pernyataan spiritual yang
menyentuh akar terdalam dari studi kemanusiaan. Sebagai Presiden Asian Social
Institute (ASI), Ramirez tidak hanya menyambut buku ini sebagai kontribusi
ilmiah, tetapi sebagai cahaya baru yang menantang dan memperkaya program
Applied Cosmic Anthropology (ACA) yang ia pimpin.
Ia menyebut bahwa studi mitologi,
yang dahulu terbatas pada kajian simbolik dan sastra, kini telah meresap ke
dalam berbagai cabang ilmu sosial—etnografi, antropologi, psikologi. Mitos,
dalam pandangan Ramirez, bukanlah sisa masa lalu, melainkan sumber pencerahan
ilmiah yang terus berkembang. Ia adalah medan refleksi yang menggugah kesadaran
heroik manusia menuju transformasi demi kebaikan bersama.
Ketika Ramirez mengangkat
pemikiran Bultmann dan Tillich, saya merasa bahwa mitos telah menemukan
tempatnya dalam teologi yang hidup. Bultmann melihat mitos sebagai ekspresi
relasi manusia dengan yang transenden, sementara Tillich menekankan bahwa mitos
menyentuh takdir tertinggi manusia. Di sini, mitos menjadi bahasa spiritual
yang mengantar manusia kepada pemahaman terdalam tentang eksistensinya.
Carl Gustav Jung kembali menjadi
poros pemikiran dalam pengantar ini. Ramirez mengutip pandangan Jung bahwa
mitos bukanlah sesuatu “di luar sana,” melainkan sesuatu yang “berada di dalam
kita.” Mitos adalah lanskap batin, dunia arketipe yang membentuk cara kita
memahami diri, sesama, dan semesta. Dalam pandangan Jung, mitos dan arketipe
adalah dua hal yang tak terpisahkan—mereka saling menjalin, saling menghidupi.
Ramirez juga menyebut karya
sebelumnya dari Prof. Pangemanan, Myth Within Us, sebagai fondasi
penting dalam memahami mitos sebagai bagian dari jiwa manusia. Namun, ia
menekankan bahwa buku Sun-Shattering Mythology of Tanimbar membawa
perspektif yang lebih luas dan transformatif. Di sini, mitos tidak hanya
dijelaskan, tetapi dihidupi. Ia menjadi perjalanan menuju takdir manusia yang
tertinggi—sebuah puncak eksistensial yang menyatukan rasionalitas dan
spiritualitas.
Yang paling menyentuh bagi saya
adalah bagaimana Ramirez mengakui bahwa masyarakat adat di Tanimbar dan
Keuskupan Amboina telah mengajarkan kita tentang realitas fenomenologis yang
lebih dalam daripada yang bisa dijangkau oleh akademisi. Di sana, mitos bukan
sekadar objek studi, tetapi pengalaman hidup yang otentik. Ia adalah kenyataan
yang dijalani, bukan hanya dipahami.
Ramirez menyambut buku ini
sebagai model unggulan dalam mentransformasikan riset menjadi publikasi ilmiah.
Ia menyebut bahwa disertasi Prof. Pangemanan, yang meraih predikat Summa cum
Laude, telah menjelma menjadi karya ilmiah yang siap diluncurkan dalam
perayaan 60 tahun ASI dan 68 tahun Seminari Hati Kudus Yesus di Manado. Di
sini, mitos tidak hanya menjadi bahan kajian, tetapi menjadi jembatan lintas
budaya dan lintas bangsa.
Sebagai penulis yang juga
menjelajahi tema spiritual dan budaya, saya merasa bahwa pengantar ini adalah
pernyataan iman dan ilmu yang menyatu. Bahwa mitos bukanlah bayangan masa lalu,
tetapi cahaya masa depan. Bahwa dalam cerita-cerita lokal, kita menemukan gema
dari pertanyaan-pertanyaan universal. Dan bahwa dalam karya ini, kita diajak
untuk tidak hanya membaca, tetapi mengalami.
Ramirez menutup pengantarnya
dengan doa dan harapan. Ia menyebut Prof. Pangemanan sebagai mediator antara
dua dunia—Indonesia dan Filipina, lokal dan global, spiritual dan ilmiah. Dan
saya percaya, bahwa dalam setiap mitos yang dihidupkan, kita sedang membangun
jembatan. Jembatan menuju pemahaman, menuju penyembuhan, menuju kemanusiaan
yang lebih utuh.
Dalam ketiga pengantar ini, saya
tidak hanya menemukan sambutan, tetapi juga nyala. Nyala yang mengajak kita
untuk tidak sekadar membaca, tetapi menyelami. Untuk tidak sekadar memahami,
tetapi mengalami. Maka, ketika kita melangkah ke bagian isi buku ini, kita
tidak datang sebagai pembaca biasa. Kita datang sebagai peziarah makna, yang
siap menyingkap lapisan-lapisan mitos Tanimbar sebagai cermin dari pencarian
kita sendiri akan kemanusiaan, spiritualitas, dan asal-usul jiwa.
Komentar
Posting Komentar