Menunggu Anas Cerpen oleh Ysuf Achmad
Cerpen Tentang Cinta yang Tak Harus Dimiliki
Janji di Bawah Pohon Beringin
Ilustrasi remaja laki-prempuan berdiri di belakang pohon beringin dengan es krim yang mencair di tangan, menatap langit senja—melambangkan penantian, harapan, dan cinta yang tak terucap namun tetap hidup.
Yusufachmad
Bilintention
Di pagi
yang tak biasa itu, kelas XII IPA 1 bersiap menghadapi pelajaran Matematika.
Suasana kelas hening, hanya terdengar bisikan kecil di antara siswa. Pintu
terbuka, dan Bu Taslim masuk dengan senyum yang jarang terlihat. Biasanya ia
tegas, seperti komandan di medan perang. Hari ini, ia tampak lembut.
“Selamat
pagi, anak-anak,” sapanya. “Dulu, saya pernah jatuh cinta,” katanya, duduk di
meja guru. Kelas riuh sejenak, lalu hening.
Anisa,
gadis cerdas dan anggun, menyimak dengan rasa penasaran. Anas, si penghibur
kelas, tersenyum geli. Anam, rival akademik Anisa, hanya menggeleng, menganggap
cerita itu selingan belaka.
Saat
istirahat, Anisa bertanya, “Kamu percaya cerita Bu Taslim tadi?”
“Karangan saja,” jawab Anas.
“Aku pikir itu nyata,” balas Anisa.
“Ah, kamu selalu romantis,” goda Anas.
Di tengah
dinamika kelas, Anas sering dianggap pengacau. Ia lebih suka berdialog dengan
kertas dan pena daripada mendengarkan guru yang tak memahami jiwanya. Ketika
dituduh mengganggu pelajaran Fisika, ia dipanggil ke ruang BP. Bu Pretty
menyambutnya dengan canda, “Anakku yang tampan, rindu ya sama Ibu?”
Anas tercekat.
“Ini peringatan terakhir. Kalau ada masalah lagi, orang tuamu akan dipanggil,”
tegas Bu Pretty.
Usai
pertemuan, Anas duduk di bawah pohon beringin tua. Ia mengirim pesan ke ibunya,
“Bu, aku pulang terlambat.” Angin sepoi membawa pikirannya ke Anisa.
“Andai
bukan karenamu, aku bosan sekolah,” gumamnya.
Di
kantin, Anas memilih nasi pecel daripada mie instan. Rahma, sahabat Anisa,
mendekat.
“Anisa akan masuk ITS, jurusan MIPA,” katanya.
Anas terkejut. Ia tahu Anisa berharap ia masuk UNAIR, jurusan Kedokteran.
“Kalau kamu masuk Kedokteran, aku akan terima cintamu,” kata Anisa suatu hari.
Anas
bingung. Ia ingin masuk Hukum Internasional. Tapi demi cinta, ia mencoba
mengikuti keinginan Anisa.
Di bawah
pohon beringin, mereka bertemu. Anas membawa es krim kesukaan Anisa.
“Kalau aku gagal masuk Kedokteran?” tanya Anas.
“Kita mungkin hanya bisa berteman,” jawab Anisa tenang.
Anas kecewa. “Kamu kok seperti Bu Tanri, menyebalkan!”
Anisa
tersinggung, membuang es krimnya dan pergi. Sejak itu, ia menjauh. Anas mencoba
meminta maaf, tapi tak berhasil. Rahma menyarankan SMS rayuan. Anisa luluh,
tapi ketika Anas mengaku ingin masuk Hukum Internasional, Anisa terdiam.
“Ibuku
selalu membanggakan Hanafi,” katanya.
“Hanafi siapa?”
“Mahasiswa Kedokteran UNAIR yang sering mengunjungiku.”
Di bawah
pohon beringin, janji cinta Anas dan Anisa diuji waktu. Lima tahun penantian,
satu harapan yang tak pernah padam. Anas tetap menunggu, bukan karena tak punya
pilihan, tapi karena ia percaya: cinta sejati tak selalu harus dimiliki, cukup
dijaga dalam doa dan kesetiaan.
Lima tahun berlalu, dan Anas tetap menunggu. Bukan karena ia tak mampu melangkah, tapi karena ia memilih untuk setia pada rasa yang pernah tumbuh. Di bawah pohon beringin, ia menyimpan harapan yang tak padam. Sebab bagi Anas, cinta bukan tentang memiliki, melainkan tentang menjaga dengan tulus.
Komentar
Posting Komentar