Bukan Singa Tua: Puisi Reflektif tentang Ilmu, Kuasa, dan Keteladanan
Bukan Singa Tua
Tentang Puisi Isi Puisi Refleksi Penulis Tagar dan Kategori
"Refleksi Penulis”.
Di
hamparan buku, pena, dan layar digital,
ilmu berdesir dalam ruang yang berselimut keagungan.
Kemegahan berbalut nama dan ikon zaman,
di tengah gelimang gelar dan panggung popularitas yang saling menyalip.
Aku bukan
singa tua yang tunduk pada usia,
bukan pula kancil licik yang menyelinap di sela akal.
Aku pemahat ilmu—mencangkul hikmah, menanam makna—
agar tak layu di tangan singa muda: yang berbudi, atau sekadar haus kuasa.
Aku tak
menyerah pada rotasi dunia yang menuhankan hierarki hewani.
Ilmu yang kutanam enggan tumbuh di tanah rakus,
tak ingin bercabang dalam kebutaan ambisi.
Aku menolak belantara yang mengukir perbedaan dengan taring,
lebih memilih ladang sunyi: berbuah amal, menjelma keteladanan suci.
Aku bukan
pencetak genetika permusuhan,
bukan pemahat dendam yang mengabdi pada tahta dan harta.
Bagiku, keduanya hanya bayang-bayang fatamorgana,
sementara ilmu tetap mengakar di tanah yang kutinggalkan tumbuh bebas.
Aku
sadar, tak lagi layak bersaing di hiruk-pikuk dunia,
namun aku tetap ada: bukan sebagai pesaing,
melainkan sebagai teman yang bersanding—tanpa perlu pembanding yang sia-sia.
Mereka
berkata, “Saatnya berhenti.”
Tapi bagiku, ilmu bukan angka dalam lembar honor,
bukan jabatan hasil kesepakatan tangan-tangan kotor.
Meski perahu kehidupan kadang berlayar dalam kepura-puraan,
aku tahu: ada aroma yang tak sejalur dengan ilmu sejati.
Ilmu
bukan tentang kilau uang baru,
melainkan kesetiaan yang tak tunduk pada gemuruh dunia.
Surabaya,
29 April 2025
"Refleksi Penulis”.
Di
hamparan buku, pena, dan layar digital,
ilmu berdesir dalam ruang yang berselimut keagungan.
Kemegahan berbalut nama dan ikon zaman,
di tengah gelimang gelar dan panggung popularitas yang saling menyalip.
Aku bukan
singa tua yang tunduk pada usia,
bukan pula kancil licik yang menyelinap di sela akal.
Aku pemahat ilmu—mencangkul hikmah, menanam makna—
agar tak layu di tangan singa muda: yang berbudi, atau sekadar haus kuasa.
Aku tak
menyerah pada rotasi dunia yang menuhankan hierarki hewani.
Ilmu yang kutanam enggan tumbuh di tanah rakus,
tak ingin bercabang dalam kebutaan ambisi.
Aku menolak belantara yang mengukir perbedaan dengan taring,
lebih memilih ladang sunyi: berbuah amal, menjelma keteladanan suci.
Aku bukan
pencetak genetika permusuhan,
bukan pemahat dendam yang mengabdi pada tahta dan harta.
Bagiku, keduanya hanya bayang-bayang fatamorgana,
sementara ilmu tetap mengakar di tanah yang kutinggalkan tumbuh bebas.
Aku
sadar, tak lagi layak bersaing di hiruk-pikuk dunia,
namun aku tetap ada: bukan sebagai pesaing,
melainkan sebagai teman yang bersanding—tanpa perlu pembanding yang sia-sia.
Mereka
berkata, “Saatnya berhenti.”
Tapi bagiku, ilmu bukan angka dalam lembar honor,
bukan jabatan hasil kesepakatan tangan-tangan kotor.
Meski perahu kehidupan kadang berlayar dalam kepura-puraan,
aku tahu: ada aroma yang tak sejalur dengan ilmu sejati.
Ilmu
bukan tentang kilau uang baru,
melainkan kesetiaan yang tak tunduk pada gemuruh dunia.
Surabaya,
29 April 2025
Refleksi Penulis
Puisi ini lahir dari kegelisahan dan keteguhan hati seorang pendidik yang menolak tunduk pada sistem yang mengukur ilmu dengan angka dan jabatan. Dalam dunia yang semakin kompetitif dan hierarkis, puisi ini menjadi zikir sunyi yang mengajak kita kembali pada akar: ilmu sebagai cahaya, bukan komoditas.
Puisi ini lahir dari kegelisahan dan keteguhan hati seorang pendidik yang menolak tunduk pada sistem yang mengukur ilmu dengan angka dan jabatan. Dalam dunia yang semakin kompetitif dan hierarkis, puisi ini menjadi zikir sunyi yang mengajak kita kembali pada akar: ilmu sebagai cahaya, bukan komoditas.

Komentar
Posting Komentar