Diamku Tak Membatu: Puisi tentang Kasih, Ketabahan, dan Gunung yang Menyala

 # Diamku Tak Membatu

  ### 🌄 Diam yang Menyulam Makna  

### 🔥 Bara yang Kupendam Demi Saudara  
### 🌋 Gunung yang Bangkit dan Bicara  
### 🌱 Reruntuhan yang Menumbuhkan Nilai  
### 🍯 Buah Perih yang Menjadi Madu

## Puisi Reflektif oleh Yusufachmad Bilintention




 

Yusufachmad Bilintention


Mengapa diamku tak kaku membatu? 

Bukan penunggu kubur yang setia meratap 

Bukan pula prasasti dingin 

yang menggigil menjaga jasad tak bernyawa— 

Diamku mengalir, meski tak terlihat. 

Ia mula-mula menyulam makna, 

dibingkai hikmah, bermahkota sabar 

menepi bukan karena kalah, 

melainkan demi kasih yang lebih luas dari kata.

 

Kupendam bara demi saudara, 

pelanjut warisan ilmu dan laku, 

atas nama bakti, atas nama waktu 

yang menua bersama rasa hormat. 

Lalu diamku bangkit, menjelma gunung 

yang sabar, tapi bukan tak sanggup meletup. 

Siapa bilang puncak tak bisa bicara? 

Kala tiba saatnya, 

ia memecah langit dengan gelegar batinnya.

 

Dari reruntuhannya tumbuh kembali: 

rumput kebaikan, pohon nilai, 

bunga sikap hormat 

bagi mereka yang mau membaca dengan hati. 

Sebab diamku tak sekadar tak bersuara— 

ia berguru pada langit dan hati pendidik: 

menyinari, bukan menghardik.

 

Aku tahu buah yang tumbuh dari perih 

kadang getir ditelan sendiri, 

tapi biarlah itu jadi madu bagi esok, 

bagi mereka yang belajar memahami diam 

bukan sebagai nisan kesunyian, 

dan bukan pula gunung 

yang sekadar termenung di cakrawala.

 

Surabaya, 17 Juni 2025

 

 :

🌌 Refleksi Penulis: Di Balik Sunyi yang Menyala

Puisi ini lahir dari ruang batin yang tidak sekadar diam, tetapi menyimpan bara kasih dan kesadaran. Diam, dalam konteks ini, bukan bentuk pasif atau kekalahan, melainkan pilihan spiritual yang penuh makna. Ia adalah cara untuk menjaga nilai, merawat warisan, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyuarakan kebenaran.

Sebagai pendidik dan peziarah makna, saya percaya bahwa tidak semua suara harus lantang untuk didengar. Ada kekuatan dalam kesabaran, ada nyala dalam ketenangan. Diam bisa menjadi bentuk tertinggi dari kasih, terutama ketika ia dipilih demi menjaga harmoni, demi menghormati proses, dan demi memberi ruang bagi pertumbuhan orang lain.


 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Jeda, Ada Tiada: Elegi Panggung dan Bunga yang Tak Selalu Mekar

Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang – Puisi oleh Yusuf Achmad, dibacakan oleh P. Didik Wahyudi

Kutipan Puisi Yusuf Achmad: Spiritualitas, Budaya, dan Cinta dalam Sastra Kontemplatif