Jalan Puisiku: Rindu–Sendu Berpadu
<h1>Jalan Puisiku: Rindu–Sendu Berpadu</h1>
<h2>Komunitas dan Kekuatan Kata</h2>
<h3>Rampak di Jogja: Gema Jiwa</h3>
Puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin jiwa yang menyuarakan rindu, sendu, dan harapan. Dalam karya ini, Yusuf Achmad mengajak kita menyelami makna di balik larik, menyentuh spiritualitas dan budaya yang berpadu dalam harmoni.
Dalam lengkung aksara, seuntai kata, dan biduk kalimat,
tersemat rindu yang menyulam hormat—
karib sejati, cinta yang tak lekang musim,
dan luka yang menjelma hikmat.
Puisiku membisu—seribu bahasa tak sanggup mengurai,
tak kupaparkan seluruh rasa pada bayang yang berseliweran.
Namun bara di dada, berbalut cita dan cinta,
bersenyawa dengan karsa, menjelma cahaya yang tak padam.
Kala aksara menggapai pelantar makna:
indah, rancak, berjiwa,
saat bait bersua kisah dan nyala jiwa menyala,
lahirlah rumah kata—tempat suara berpulang dan bermula.
Tiada sekat ruang, waktu, atau ritme yang mengekang,
semua larik mengalir dalam rampak yang bergema panjang.
Jemariku merekam pelukan komunitas:
seperti hujan pertama di kemarau panjang,
membasuh sunyi dengan kasih yang tak berpura.
Pertemuan demi pertemuan berakar saudara,
menetas sayang, menumbuhkan laku perjuangan.
Suara-suara lirih, semilir angin subuh,
terkristal dalam kotak mungil sakti—
sebuah gawai, yang menyimpan puisi dan harapan.
Lalu keyakinan tumbuh:
tiada takdir yang sesat kecuali yang tak diyakini bulat.
Larik-larikku pun bersemi dalam “Rampak di Jogja,”
seperti gema Padang yang ingin kembali bersua,
di bukit-bukit makna yang menjulang dari lembah jiwa.
Puisi filsafati, spiritual, romantik dan futuristik,
berdamping mesra dengan benih budaya dan aksara.
Dirangkai di biara ilmu yang lapang dan bercahaya,
menjelma harmoni dalam keberagaman yang bermuara.
Surabaya, 10-7-2025
Dalam larik-larik yang mengalir, Yusuf Achmad menyampaikan bahwa puisi adalah rumah makna—tempat suara berpulang dan bermula. Ia mengajak kita untuk percaya bahwa takdir bukanlah kesesatan, melainkan keyakinan yang tumbuh dari kata-kata yang bersemi.
catatan: Ditulis oleh Yusuf Achmad, seorang penulis dan penyair yang aktif menyuarakan nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan kebersamaan melalui karya sastra. Puisi ini lahir dari refleksi mendalam atas perjalanan komunitas dan harapan yang tumbuh di tengah keberagaman.
http://bit.ly/4fkAXmH

Komentar
Posting Komentar