Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Bolong

Gambar
  Sumber :AI_Copilot Bolong adalah lubang . Lubang adalah pintu . Pintu adalah jurang . Jurang adalah rahim . Rahim adalah liang .   Bolong adalah kosong. Kosong adalah penuh . Penuh adalah bolong. Bolong adalah kita.   Kita bolong di mata. Kita bolong di telinga. Kita bolong di kata. Kita bolong di jiwa .   Bolong adalah tawa . Bolong adalah luka . Bolong adalah doa . Bolong adalah sia-sia .   Untuk tulisan lain silahkan buka: https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write  https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en  https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211 Suaraanaknegerinews.com                          https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-at...

Dialog Berhikmah

Gambar
  Sumber:AI-Copilot Jangan Berprasangka Buruk Di sebuah warung kopi pinggir jalan, Kadari mengeluh pada sahabatnya. Kadari :  “Aku tidak punya uang sama sekali. Anak dan istriku belum makan.” Kodrat  mencoba menenangkan:  “Sabarlah, dengarkan dulu ceritaku.” Kadari menuduh:  “Kamu pasti menolak meminjamiku.” Namun akhirnya Kodrat menyerahkan uang titipan saudaranya:  “Ini untukmu. Aku cerita bahwa keluargamu sering berpuasa karena tidak ada makanan.” Kadari terdiam:  “Subhanallah… aku berprasangka buruk. Allah , ampunilah aku.” Refleksi Fenomena prasangka buruk ( su’uzan ) sering muncul di masyarakat urban. Survei sosial menunjukkan banyak orang cenderung cepat menilai tanpa mendengar penjelasan. Pola komunikasi yang tergesa-gesa, ditambah tekanan ekonomi, membuat orang mudah curiga. Padahal, keterbukaan dan kesediaan mendengar dapat mencegah salah paham serta menjaga harmoni sosial. Prasangka buruk bukan hanya persoalan individu, tetapi juga fenomena...

Ketika Kaki Bercerita di pagi Sunyi

Gambar
  sumber AI-Copilot Hari masih petang, zikir subuh baru saja meluruh di udara. Embun menggeliat di sela-sela aspal, harum semerbak menari dalam dingin yang malas. Para jamaah berlalu, membawa luka yang belum sembuh, doa yang belum dijawab, Masjid dan langgar terdiam, menjelma saksi bisu atas pinta yang tertumpah. Langkahku menyusuri jejak sunyi kehidupan, di antara gelisah ibu-ibu yang menggenggam mimpi dengan tangan bergetar, di atas tumpukan barang jualan yang belum disentuh rezeki, di bawah langit yang masih remang, seorang bapak paruh baya mengayun sapu lidi , menatap jalan kosong. Ia menyapu luka rumah tangga ke dalam selokan yang tak pernah bertanya, menghempaskan marah pada tumpukan sampah yang tak pernah membalas. Di genggaman sapu lidi, ia temukan keteguhan: tempat bertahan ketika cinta tak lagi pulang. Di sudut pertigaan, kakiku berhenti. Perempuan berambut pirang berjalan pelan, menggenggam resah yang tak bisa dibagi. Tubuhnya kecil, ringkih, tak tinggi, tapi langkahn...